Category: Nurses


misran

Kasus UU Kesehatan: 9.000 Warga Tergantung Misran Buat halaman ini dalam format PDF Cetak halaman ini
KESRA– 8 APRIL: Misran kini hanya bisa pasrah. UU 36/2009 tentang Kesehatan, tidak membolehkannya memberi obat keras untuk mengobati pasien. Padahal, 9.000 orang yang tersebar di lima desa di Kutai Kertanegara, Kaltim, bergantung padanya.”Dokter terdekat di ibukota kecamatan, jarak tempuh sekitar 30 km. Ini sangat rentan bagi pasien untuk dapat tertolong,” ujar sekretaris LKBH Korpri Kutai Kertanegara, Mukhlis saat berbincang-bincang dengan detikcom, Rabu (7/4/2010).

LKBH ini yang memberikan pendampingan hukum untuk Misran dari kepolisan sampai ke Mahkamah Konstitusi (MK). Misran selama 18 tahun mengabdi menjadi Kepala Puskesmas Pembantu, dia membawahi lima desa, tiga diantaranya yaitu Desa Kuala Samboja, Pemedas dan Tanjung Harapan.

“Ini desa di Kalimantan, bukan di Jawa,” katanya.

Dalam hal ekonomi, 5 desa tersebut lebih terbelakang dibandingkan daerah lain di Kutai Kertanegara. 9 ribu penduduk yang dibawahi Misran umumnya berprofesi sebagai buruh dan nelayan.

“Kalau ada nelayan yang kecelakaan saat melaut. Kan butuh pengobatan secepatnya,” bebernya.

Selama puluhan tahun mengabdi, kedekatan dengan warga pun terjalin. Misran tak hanya memberikan pelayanan selama jam kerja tapi selama 24 jam. Bahkan masyarakat selalu keberatan jika Misran dipindahtugaskan.

“Akhirnya, ada masyarakat yang membagi sepetak tanahnya untuk Misran guna membangun rumah di situ. Semata-mata biar dekat dengan warga,” tambahnya.

Keterpencilan desa Misran nampak dari jarak tempuh dari Kuala Samboja ke ibukota kabupaten, Tenggarong. Minimal butuh waktu setengah hari atau sepanjang 200 km untuk sampai ke Tenggarong. Jarak yang jauh tersebut pula yang menyebabkan mantri desa ini hanya mengambil obat per tiga bulan.

“Jadi sangat logis jika Misran memberikan pertolongan layaknya dokter,” bebernya.

Nasib Misran ternyata juga dialami kurang lebih 1.000-an mantri desa yang tersebar di 500 lebih desa di seluruh Kabupaten Kutai Kertanegara. Selain Misran, banyak mantri desa yang lokasi pengabdiannya lebih terpencil dengan jarak yang lebih lama.

“Di sini, sebagian besar transportasi menggunakan perahu sungai. Kalau mantri tak boleh mengobati, bagaimana masyarakat di desa yang perlu waktu tiga hari perjalanan sungai dan darat hingga menemui dokter? Padahal di situ sudah ada mantri desa. Apa kita tega membiarkan orang sakit? Itu baru di Kutai Kertanegara. Bagaimana dengan kabupaten lain di seluruh Indonesia?” tambah Mukhlis.

source >> http://www.menkokesra.go.id/content/view/14482/1/

Iklan

kemaren itu hari terakhir gue praktek manajemen di rumah sakit. Gue udah cerita deh kayaknya kalo gue kebagian kamar endokrin yang isinya pasien diabetes dengan gangren yang perlu rawat luka setiap harinya.

Diantara semua pasien, ada 3 pasien yang rata-rata usianya sebaya dengan bokap gue sampe yg cocok jadi kakek gue ( mungkin karena mantan pejuang, jadinya ga keliatan loyo juga sih…). Ada peraturan dikalangan medis dan paramedis yang melarang hubungan emosional antara tenaga kesehatan dan pasien. Empati boleh tapi bukan bersimpati. Dilarang menerima barang apapun dari pasien, karena mungkin aja sadar ga sadar ngebuat petugas jadi menspesialkan pelayanan kesehatannya.

Memang sih, gue dan teman-temen masih bisa menolak sebagian pemberian dari pasien. Tapi toh, kadang-kadang mau ga mau diterima juga. Oke, bukan itu yg mau gue bahas. Tapi kejadian waktu kita semua pamit dengan mereka kalo kami yang sudah 3 minggu bercengkerama dengan luka gangren mereka yang beberapa diantaranyaaromanya nyaris membuat pingsan, masalah dengan alat genital mereka, komunikasi yang rada ga nyambung dengan pasien berkomplikasi stroke, pasien yg hobinya marah2 sambil ngancem pengen loncat dari lantai 6 tempat kami berada, dengan vena dan nadi mereka yg sulit untuk ditemukan disaat2 dibutuhkan, nilai laboratorium dan tensi darah mereka yang bikin kocar kacir dan macem2 lagi…… sedikit banyak meningkatkan perasaan kekeluargaan diantara kami dan mereka. Setidaknya 3 orang ‘sukses’ meneteskan air mata, sedikit ‘lucu’ dengan postur tubuh mereka yg besar2 dan bertato disana sini. Itu bukan masa2 perpisahan gue dengan pasien yg pertama kali, dan jelas bukan waktu pertama buat gue belajar buat meredam emosi gue didepan mereka. It’s forbidden for nurses to show emotion in front of people they care for.

nyatanya ada juga temen gue yg ga bisa nahan perasaannya. dia nangis didepan pasien waktu ngelap airmata si pasien tapi ternyata masih juga nangis waktu sadar itu hari terakhir kami bersama mereka.

terus terang, gue merinding setiap mereka mengucapkan doa atau berkata bahwa apapun yang sudah kita lakukan demi mereka hanya Allah yang akan membalasnya. Seberapa banyak orang yg mendoakan orang lain yang tidak punya hubungan darah atau afeksi ???

***

bukan, bukan cuma mereka yg seharusnya berterima kasih. Sekalipun tenaga yang keluar itu dari kami, keringat itu dari kami, pikiran itu dari kami tapi toh pasti ada pelajaran yg kami terima dari mereka.

umumnya teman dan cinta sejati itu terlihat dengan jelas ketika kita sedang ditimpa kemalangan. siapa yang tetap bersamamu ketika keriaan tidak sedang bersamamu.  Salah satunya disaat sakit.

Rasanya hampir semua orang tau kalau diabetes itu akan mempengaruhi fungsi reproduksi penderitanya. Bayangkan jika penderitanya laki-laki, sedangkan ‘itu’ adalah salah satu kebanggaan yg menjadi ego sebagian besar pria. Perempuan mana yang masih tetap setia mendampinginya ?? disalah satu pasien ada yang pernah bercerita tentang bagaimana ia menemukan istrinya, saat itu sedang masa2 transisi zaman soekarno ke soeharto. Keadaan sedang carut marut. Dia sedang dalam tugas hingga keluar negeri terlebih ia merangkap militer dan intel negara. Istrinya hanya sesekali bertemu dengannya, saat menikah pun hanya sekejap saja mereka bersama, saat anak mereka lahir tidak juga ia bisa mendampingi istrinya. Saat ini dia sakit, istrinya setia mendampinginya. Jika waktu makan tiba lalu istrinya tengah tertidur atau sedang keluar, sekalipun ia bisa makan sendiri, ia tetap tidak bersedia untuk makan padahal gue udah terlanjur mensuntikan insulin… gue bolak-balik ke ruangannya, cemas kalau2 tiba2 dia ambruk gara2 hipoglikemi…. untunglah dia masih mau gue bujuk makan buah. seenggaknya dia punya cadangan gula untuk dipecah didalam tubuh….

disebelahnya, ada lagi pasien dengan istri yang menurut gue funky diusianya yang kepala 4. suaminya diabetes tipe 2 dengan bentuk kaki yang sudah abnormal karena penyakitnya tersebut, dengan fungsi wicara yg terganggu karena post stroke sehingga membutuhkan tenaga ekstra untuk berkomunikasi dengannya. Bayangkan lo sakit selama berhari-hari, berminggu-minggu atau berbulan-bulan dengan keadaan tidak dapat berjalan ataupun duduk sudah menjadi prestasi tersendiri yg dinilai luar biasa,,,, bosan tidak ?? lo cuma bisa ngeliat ujung gedung bertingkat dari kejauhan di balik jendela. Lo harus akrab dengan semua terapi yg lo jalanin….lo bisa menaklukan ego kebosanan lo itu demi istirahat yang mungkin tidak terlalu dibutuhkan oleh istri lo ?? kalo lo jadi istrinya, apa bisa lo bersabar dengan semua yang udah terjadi dengan suami lo ?? apa yang bisa lo gantungkan padanya dengan kondisi seperti itu…….

we learn a lot of love here…..

Fine. This is what i’ll write.

Saat partai Demokrat masih melakukan kampanye untuk Indonesia 1, saia pernah menulis dalam status Bapak Capres ( yg saat itu memang sudah presiden dan ‘lanjutkan’ hingga hari ini) di facebook. Kalo ga salah gara-gara jingle merk mie instan yg kepake ato dugaan black campaign. Pendukung demokrat bersikekeuh membela Demokrat apapun keadaannya. Gue ga ingat pasti sih, kalimatnya gimana, tapi intinya gue bilang kalo seandainya kita mencintai sesuatu hal itu, bukan berarti termasuk membela disaat salah. Gue yakin membela disaat yang kita cintai itu salah justru akan lebih menjerumuskan. Tipe-tipe cinta yang merusak (subyektifitas gue loh…). Kalo emang Demokrat punya kesalahan , ya kewajiban pendukungnya lah buat mengingatkan. Siapa lagi ? Percuma dong, SBY (mencoba) bersikap obyektif, berkepala dingin dan (berusaha) adil kalau yang dibawah-bawahnya malah ngerusak tatanan….

Sebagai salah satu pendukung partai Demokrat (sekalipun gue sebenernya ga paham-paham banget soal politik dan ga peduli-peduli amat dengan kebijakan masing-masing parpol), gue rada berat buat nulis ini.

WAKIL KETUA DPRD DUMAI TAMPAR PERAWAT >>>>> dan dia Ketua DPC Demokrat Dumai….

****

EKO vs EKA

Eko Suhardjo, Wakil Ketua DPRD Dumai yang juga Ketua  DPC Demokrat Dumai, menampar Eka (25), perawat wanita RSUD Dumai tersebut karena tersulut emosi. Akibat dari perlakuannya ini, beliau dilaporkan oleh Eka dan keluarga ke Polresta Dumai.

Awalnya, Eko berniat mencari kamar untuk ibunya yang sedang sakit hipertensi. Tidak dijelaskan dalam berita dan forum yang gue buka tentang seberapa berat grade hipertensi yang diderita oleh ibunda Eko. Eka, sebagai salah satu dai tiga perawat yang sedang tugas jaga di ruang VIP RSUD Dumai menjelaskan bahwa kamar sudah penuh, adapun kamar yang kosong sudah dibooking, diselesaikan administrasinya dan akan dibawar keesokan harinya. Adu mulut pun terjadi.

Sebelumnya, Eka tidak mengetahui sama sekali siapa yg sedang dihadapinya. Baginya, status pasien sama saja (sesuai sumpah kan). Setelah Eka mengungkapkan hal tersebut, Eko tersulut emosinya. Beliau merasa bahwa yang dipermasalahkan saat itu adalah perihal materi.

“Cuma ada satu kamar yang belum terisi, Pak. Tapi kamar itu sudah di- booking.  Administrasinya sudah diselesaikan. Besok, kamar itu akan dibayar oleh pasiennya, Pak,” ujar Eka.

Eko langsung menimpali, “Oh, karena materi. Saya ini anggota dewan. Tidak mungkin tak bisa membayar,” ujar Eko lagi dengan emosi.

Kemarahan Eko makin meninggi saat Eka mengatakan bahwa siapapun harus mendapat perlakukan yang sama.

Sontak Eko langsung melayangkan tangan kanannya ke pipi kiri Eka. Tak menyangka dipukul seorang anggota dewan yang terhormat, perawat yang baru satu tahun bertugas di RSUD Dumai ini kaget bukan kepalang. Dia pun menangis.

“Hati saya sakit sekali. Saya merasa profesi saya direndahkan,” Eka mengurai perasaannya.
Malam itu juga, perawat yang juga merangkap bidan ini langsung menghubungi suaminya, Andre.

“Setelah berembuk bersama keluarga besar, kami putuskan untuk melaporkan kasus ini. Tujuannya hanya ingin menyadarkan, adakah itikad baik dari Pak Eko untuk meminta maaf,” ujar Andre.

AKP Hariwiyawan, Kasat Reskrim Polresta Dumai mengungkapakan akan melakukan cek dan ricek mengenai hal ini. Sementara itu, Direktur Utama RSUD Dumai, dr. Azrida enggan berkometar dan meminta pihak pers untuk tidak mempublikasikan masalah pegawainya tersebut. Sekedar catatan, Eka baru bekerja di RSUD Dumai dalam satu tahun terakhir.

“Informasinya belum lengkap. Saya belum bisa meminta klarifikasi dari Pak Eko tentang kejelasan peristiwa malam itu,” ujar Azrida. Tapi ia membenarkan bahwa Minggu malam lalu, ibu Eko menjalani perawatan di RSUD Dumai.

“Secara psikologis, kami menganggap wajar. Karena dalam kondisi ibu krisis, mungkin Pak Eko syok. Sementara pegawai saya pun tetap menjalankan tugas sesuai SOP-nya. Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu disalahkan,” ujar Azrida. Sementara itu, lingkungan anggota DPRD Dumai sontak kaget ketika mendapatkan informasi terkait tingkah Eko tersebut. “Tidak diperbolehkan anggota dewan seperti itu,” ujar Wakil Ketua Fraksi PDIP DPRD Dumai, Tito Gito.

Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Dumai, Onny Chairunisa, menjelaskan pihaknya belum tahu secara lengkap tentang persoalan itu. “Belum ada laporan ke BK. Kami akan bertindak jika ada aduan. Tapi jika ini benar, maka kami akan memanggil yang bersangkutan dalam waktu dekat,” ujarnya.

****

Versi Eko

Dalam versinya, malam itu, saat ia membawa orangtuanya untuk mendapatkan perawatan di ruang VVIP RSUD Dumai, ia memang panik namun tidak membentak, apalagi menampar.

Ia mengakui saat itu dalam kondisi panik. Terlebih melihat kondisi orangtuanya yang sedang sakit. Saat itu ia hanya mempertanyakan ruangan yang tersedia saat itu. Saat menanyakan ia juga mengakui tidak pakai membentak.

“Ngapain saya tampar. Kalau nampar itu tidak ada. Saya juga tidak membentak tapi mempertanyakan. Tanyakan saja kepada Direktur RSUD Dumai,” katanya yang saat dihubungi mengaku sedang berada di ICU rumah sakit.

Eko menambahkan, saat menanyakan kepada Eka tentang ruangan yang ada saat itu, jawaban yang diberiakan perawat yang berjaga saat itu dirasakanya tidak pas.
Padahal ia membutuhkan ruangan secepatnya untuk perawatan orangtuanya.

Terkait laporan yang diajukan pihak korban ke Polresta Dumai, Eko hanya berujar singkat, silakan saja. Ia menyebutkan akan mencari saksi yang melihat kejadian sebenarnya malam itu.

****

IRONI

Berdasarkan salah satu artikel yang ditulis PPN, saat ini jumlah perawat sekitar 500.000 orang. Atau sekitar 60 persen dari keseluruhan tenaga kesehatan di seluruh Indonesia. Untuk lulusan D3 saja, diperkirakan 23.000 orang setiap tahunnya.

Saat ini perawat diseluruh Indonesia tengah memperjuangkan RUU Keperawatan. Perjuangan ini sudah berlangsung selama sebelas tahun dan belum mendapat tanggapan hingga kini. Pada sekitar bulan Juni 2009, pernah terjadi demostrasi oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia ( PPHI ) untuk pengesahan UU keperawatan. Isi dari RUU yang diperjuangkan antara lain mencakup lingkup kewenangan perawat, kehidupan profesional perawat, lembaga yang menaungi, sistem lisensi dan registrasi. Ketiadaan undang-undang ini sama artinya membiarkan perawat bekerja tanpa perlindungan hukum yang kuat.

Ironisnya, desakan pengesahan RUU tersebut saat itu hanya direspon oleh Komisi IX dan partai Demokrat. Eko adalah anggota parpol Demokrat.

FYI, saat ini Indonesia bersama 10 negara ASEAN lainnya termasuk Laos dan Vietnam, belum memiliki UU keperawatan. If someday, we live borderless…. tenaga kesehatan asing akan dapat dengan mudah menyingkirkan keberadaan tenaga perawat dalam negeri.

NEXT >>>> just wait and see.

He knew he loved

hidup itu pendek.

Dari semua praktek profesi gue, ataupun praktek waktu gue ngambil gelar s1
gue paling ga suka praktek di pediatrik (anak)
bukan karena gue ga suka sama anak-anak, tapi karena gue ga ngerti mau ngapain di anak
terus terang, gue lebih takut menangani pasien anak dibandingkan pasien dewasa
banyak hal yang jadi alasan :
1. Ga tega
bayangin aja, kalo gue mesti nusuk-nusuk anak-anak dengan jarum berkali-kali. Nyari-nyari vena buat diambil darahnya ga tau sebanyak apa dalam sehari. Nyolok-nyolokin NGT buat ngebantuin makan anak-anak yang dirawat dengan status nutrisi kurang bahkan buruk. Ngeliat orang asing datang dengan baju putih sambil nenteng-nenteng jarum siapa sih yang ga ngeri ? gimana anak-anak ?

2. Lemah hati
sebenernya masih kembaran dengan alasan pertama gue. Tapi mungkin kali ini lebih ke ortunya si anak-anak. Bayangin kalo anak pertama lo masuk RS ga lama setelah lahiran dengan keadaan separuh ga sadar atau bahkan koma. Lo bayangin jadi emaknya. Kalo ngeliat keadaan anak-anak di RS, pasti lebih suka deh ngeliat anak-anaknya loncat-loncat sambil ngubrak abrik rumah, bayi nangis-nangis sampe ngebangunin di tengah malam soalnya ada loh anak yang tumbuh besar kayak tanaman—ga ada suara-suaranya. Hidupnya ditempat tidur, makannya lewat hidung. Bayi yang gue rawat sekarang nangis aja suaranya kayak curut, butuh tambahan oksigen lima liter setiap hari ditambah nebulizer empat kali sehari,ulang bulannya yang keempat juga di RS. Ga ada yang lebih baik dari bersyukur punya badan sehat.

3. Trenyuh
Ga kayak disinetron yang doyannya nangis-nangis padahal si pasien baru kejedut sedikit, lecet dikit trus ngebayangin mereka orang paling sakit sedunia. Di tempat praktek gue sekarang, banyak bunda-bunda yang tegar nerima anaknya yang mungil hidup dengan leukimia ataupun kanker lainnya, rambut anak-anak mereka tidak bisa selebat anak-anak teman-teman arisannya—tentu saja, kemoterapi membuat rambutmu rontok sedikit demi sedikit.Anak-anak juga tegar nerima mereka ga bisa sekolah kayak temen-temen sebaya mereka. Mereka harus tes ini dan itu dalam jadwal yang ditentukan.

Tadi siang, gue nemenin salah satu keluarga pasien ke MRI buat foto thorax. Si anak udah beberapa hari ini sesak nafas. Dia juga jadi rewel sejak tiga hari terakhir padahal untuk anak seusianya yang masih dalam usia toddler, dia cenderung lebih dewasa. Asal tahu aja, dia penderita AIDS positif. Didapat dari ayahnya kemudian ditularkan secara alami ke dirinya dan kakaknya. Ketiga orang itu sudah pergi mendahului dia. Dia jarang nangis kalo ditusuk-tusuk, dia juga ga ngeluh dilarang makan ini dan itu, bahkan dia yang membantu jadwal dan pilihan makanannya. Luar biasa menurut gue.

Seharian ini dia ngeluh pusing. Pengen bobo, ngantuk dan mengeluh capek. Kepalanya keringetan, tanganya yang kurus dan kulitnya yang udah lebam-lebam serta kehitaman tampak semakin menyedihkan. Bibirnya pucat dan dia selalu merasa haus. Seorang ibu yang kebetulan mengantar suaminya buat foto thorax bersimpati terhadap penderitaan anak sekecil itu, bahkan lebih kecil daripada putrinya yang sedang dibawanya. Dia yang membelikan air mineral buat si anak yang gue bawa itu.

Waktu foto, dokter dan petugas radiologi gue peringati dengan kode bahwa anak ini pengidap AIDS positif. Petugas magang itu sama sekali tidak mau menyentuhnya. Gue bisa (sedikit) merasakan perasaan si ibu.

Setelah itu, gue anterin dia pulang ke kamarnya. Infusnya macet. Darahnya beku, soalnya abocathnya bengkok. Infus di aff…
Habis itu, gue naik ke lantai dua, ke kamar salah satu pasien gue yang lain. Soalnya ada jadwal makan NGT dan nebu. sayangnya nebunya ga ketemu, gue balik lagi kebawah. Guess what ?? anak yang tadi masih bicara dengan gue, dengan bundanya… yang masih minta minum, yang masih bisa tegak berdiri sekalipun dengan wajah lelah, udah dibungkus kain pocong.

Sang bunda yang selama ini tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menangis. Baru kali ini histeris, nangis sejadi-jadinya. Oke, itu mungkin bukan pemandangan pertama kali buat gue. Toh, si bunda udah bilang dia lebih rela si anak ‘pulang’ dan beristirahat, dibandingkan melihatnya menderita. Sekalipun sering galak cenderung tegas, sang bunda tidak pernah lupa mengatakan betapa ia menyayangi si anak. Sang anak tidak pernah merasa tersisih dengan keadaannya. He knew he loved.